SOAL DAN JAWABAN TEORI PERMINTAAN DAN UANG DAN KURVA ISLM


NUR AZIZAH ABRIDA BASUNI
1512000051
EKONOMI MONETER

1.        Konsep tentang permintaan uang (Money Demand) di PPT
2.        Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang
a.        Permintaan uang untuk transaksi (transaction demand)
Terkait dengan fungsi uang sebagai alat tukar, kita menggunakan uang untuk membeli barang dan jasa atau untuk membayar tagihan. Permintaan uang untuk transaksi memiliki hubungan positif dengan pendapatan. Jika pendapatan naik, maka permintaan uang untuk keperluan bertransaksi juga meningkat.
b.        Permintaan uang untuk berjaga-jaga (precautionary demand)
Permintaan terhadap uang bisa saja karena orang ingin berjaga-jaga terhadap suatu peristiwa yang tidak dikehendaki seperti sakit, kecelakaan, kebanjiran dan kebakaran. Permintaan uang untuk berjaga-jaga juga memiliki hubungan positif dengan pendapatan.
c.         Permintaan uang untuk spekulasi (speculative demand)
Spekulasi berarti melakukan sesuatu tindakan atas dasar ramalan perubahan nilai harta di masa depan. Jika seorang spekulan meramalkan bahwa harga rumah, nilai saham, atau harga emas akan meningkat dimasa depan, mereka akan membeli rumah, saham, atau emas, dan bukan menyimpan uang. Jadi, dalam hal ini spekulan berharap bahwa mereka akan mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga rumah, saham, atau emas di masa depan. Ini tentu dengan sendirinya mengurangi permintaan uang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang adalah sebagai berikut.
a)        Tingkat suku bunga.
b)        Tingkat harga
c)        Terjadinya penambahan atau peningkatan produksi barang dan jasa
d)        Ekspektasi atau ramalan.
e)        Besar-kecilnya pembelanjaan negara yang berkaitan dengan pendapatan nasional.
f)         Cepat atau lambatnya laju peredaran uang.
g)        Motif-motif masyarakat dalam memiliki uang.

3.        Kurva ISLM
Dengan tindakan pemerintah menambah supply uang, sesuai dengan pertimbangan kebutuhan ekonomi dan politik, maka kurva LM akan bergeser ke kanan. Dampak penambahan supply uang ini dapat dilihat pada Gambar. Pada awalnya titik keseimbangan berada pada E0 dengan uang yang disupply pemerintah sejumlah tertentu dan dengan tingkat bunga pada i0 dan income Y0. Pemerintah kemudian menaikan supply uang sehingga kurva LM0 bergeser ke kanan menjadi LM1 sehingga tingkat bunga turun menjadi i1. Penurunan tingkat bunga, akibat penambahan supply uang, menyebabkan investasi naik sehingga income juga naik. Kenaikan investasi juga menaikan AD dan kenaikan AD berarti kenaikan income dan output. Besarnya kenaikan income adalah akibat penambah supply uang adalah sebagai berikut :
IMG_256

Kenaikan supply uang menggeser kurva LM ke kanan. Pasar uang menyesuaikan dengan cepat sehingga bunga turun ke titik E2. Bunga yang rendah mendorong investasi naik sehingga pengeluaran dan dan income naik ke Y1. Kenaikan income menyebabkan bunga naik ke E1.

Sebelum keseimbangan mencapai titik E1 maka lebih dulu keseimbangan adalah pada titik E2, hal ini karena proses penyesuaian di pasar uang dapat terjadi dengan sangat cepat. Kelebihan supply uang yang terjadi segera diserap oleh publik. Akibatnya harga obligasi naik dan tingkat bunga turun (ingat permintaan uang berbanding terbalik dengan tingkat bunga). Karena tingkat bunga turun maka permintaan uang segera naik sehingga pasar uang segera seimbang pada titik E1. Turunnya bunga mengakibatkan income naik ke Y1. Besarnya kenaikan income adalah Y0Y1 lebih kecil dari 1/k ∆ M/P, hal ini disebabkan karena kurva LM tidak tegak sehingga kebijakan moneter kurang efektif. Bila kurva LM tegak maka penambahan income akan sama dengan 1/k ∆ M/P.

Argumen lain adalah pada titik E2 tersebut terjadi kelebihan permintaan barang (Excess Demand of Goods) dimana income tinggi tetapi tingkat bunga rendah sehingga permintaan investasi naik dan permintaan barang juga tinggi. Sebagai respon produsen menaikan output sehingga income naik. Naiknya income menyebabkan permintaan uang naik sehingga tingkat bunga kembali naik. Akhirnya titik keseimbangan dicapai pada titik E1. Secara ringkas proses yang terjadi adalah sebagai berikut, MS ↑ → i ↓ → AD (I atau C)↑ → Y↑. Keadaan sebaliknya akan terjadi bila terjadi penurunan supply uang, yaitu tingkat bunga akan naik, agregat demand turun, dan income juga akan turun.

Efektifitas kebijakan moneter tergantung pertama, dari tingkat kemiringan kurva LM. Bila kurva LM vertical maka semakin besar dampak dari kebijakan moneter terhadap perubahan income dan sebaliknya bila kurva LM semakin miring maka semakin kurang efektif kebijakan moneter tersebut karena sangat kecil dampaknya terhadap penambahan income. Berarti efektifitas kebijakan moneter akan dipengaruhi oleh factor yang menentukan kemiringan kurva LM. Kemiringan kurva LM tergantung dengan tingkat sensitifitas permintaan uang terhadap tingkat bunga (koefisien b pada persamaan 6.5). Bila permintaan uang sangat sensitive terhadap perubahan bunga (b besar) maka kurva LM akan miring. Ini berarti bahwa sedikit perubahan tingkat bunga mengakibatkan penurunan tingkat bunga sehingga pengeluaran investasi akan semakin besar.
kurva LM
Faktor kedua yang mempengaruhi efektifitas kebijakan moneter adalah kemiringan kurva IS, semakin tegak kurva IS maka semakin tidak efektif kebijakan moneter, sebaliknya bila kurva IS semakin datar maka kebijakan moneter akan semakin efektif. Kemiringan kurva IS tergantung dengan tingkat sensifitas investasi terhadap perubahan tingkat bunga. Bila pengeluaran investasi sangat sensitif terhadap perubahan bunga maka sedikit perubahan tingkat bunga akan mengakibatkan perubahan investasi yang relative lebih besar. Dalam keadaan seperti ini maka bentuk kurva IS akan semakin mendatar. Pengeluaran investasi yang sensitive terhadap bunga merupakan indikasi bahwa ekonomi berada dalam keadaan tidak full employment, artinya masih banyak factor produksi yang belum dipakai penuh. Bila ekonomi berada dalam keadaan full employment maka pengeluaran investasi menjadi tidak sensitive terhadap perubahan bunga dan bentuk kurva IS adalah vertical. Dalam keadaan seperti ini maka bila stok uang ditambah (kebijakan moneter) maka income tidak akan naik walupun tingkat bunga turun. Keadaan ini disebabkan karena investasi tidak respon terhadap penurunan bunga.

4.        Konsep angregat demand dan supply terhadap uang
pengaruh-kebijakan-fiskal-dan-moneter-terhadap-permintaan-agregat-4-638

kenaikan jumlah uang beredar menyebabkan   uang beredar riil  meningkat (M/P), yang menyebankan kenikan permintaan agregat. Dengan demikian, kenaikan uang beredar menggeser kurva permintaan agregat ke kanan , hal ini dikarenakan  kenaikan uang beredar akan menurunkan suku bunga dan mendorong pengeluaran investasi yang direncanakan dan ekspor bersih.Pendekatan komponen menyatakan bahwa faktor lain juga merupakan penyebab  penting bergesernya kurva permintaan agregat.

5.        Teori- teori tentang permintaan uang
Teori Permintaan Uang
a)        Teori Klasik
Teori permintaan uang, tercermin dalam teori kuantitas uang. Pada awal mulanya teori ini dimaksudkan untuk menjelaskan mengapa seseorang atau masyarakat menyimpan uang kas, tetapi lebih pada peranan dari uang itu sendiri. Menurut Fisher bahwa jumlah proporsional dengan harga, dengan asumsi kecepatan uang dan transaksi dianggap tetap (Sukirno, 2003:221).
Dengan sederhana Irving Fisher merumuskan teori kuantitas uang sebagai berikut :
   M = Uang beredar (penawaran uang)
P = Tingkat harga
V = Kecepatan perputaran uang
T = Jumlah barang dan jasa yang diperjual belikan didalam satu tahun tertentu

Di dalam persamaan itu M diartikan dalam pengertian uang beredar yang sempit. Ini berarti M adalah sama dengan jumlah uang kertas, logam dan uang giral yang terdapat dalam perekonomian. Kelajuan peredaran uang yaitu V, ditentukan berdasarkan keseringan uang beredar yang tedapat dalam masyarakat berpindah tangan dalam satu tahun.

Faktor terakhir dalam persamaaan di atas yaitu T, menunjukkan jumlah barang-barang jadi dan barang setengah jadi yang diperjual belikan. Sedangkan PT adalah hasil penjumlahan dari perkalian di antara masing-masing barang yang termasuk pendapatan nasional dengan harga-harganya. Singkatnya PT bukan meliputi pendapatan nasional saja, tetapi juga nilai keatas barang-barang. Ini berarti nilai PT selalu lebih besar dari pada pendapatan nasional. (Sukirno, 2003:221-222).

Melalui bukunya The Purchasing power of money terbit pada tahun 1911, Irving Fisher memperkenalkan pendekatan secara velositas. Pendekatan ini menjelaskan bahwa jumlah uang yang dibelanjakan sama dengan jumlah uang yang diterima. Dalam teori ini, fungsi uang hanyalah sebagai alat tukar.

Fisher mengemukakan bahwa permintaan uang merupakan kepentingan yang sangat likuid untuk memenuhi motif transaksi. Dengan sederhana persamaan transaksi permintaan uang Fisher adalah:
 
Dimana nilai dari barang yang dijual dikalikan dengan harga rata-rata dari barang tersebut (P) harus sama dengan volume uang yang ada dalam masyarakat (M) dikalikan dengan berapa kali rata-rata perputaran uang (V). Volume transaksi (T) dalam suatu periode tertentu ditentukan oleh tingkat output masyarakat (pendapatan nasional) dan bisa pula dianggapmempunyai nilai tertentu dalam dalam satu tahun. Volume transaksi (T) dalam suatu periode tertentu ditentukan oleh tingkat output masyarakat (pendapatan nasional) dan bisa pula dianggapmempunyai nilai tertentu dalam dalam satu tahun.

Menurut Fisher dan kaum klasik diasumsikan selalu dalam keadaan full employment. Velocity ditentukan oleh faktor-faktor kelembagaan, mencakup faktor-faktor, misalnya tingkat permintaan uang akan sama dengan pendapatan nasional. Maka secara matematis dapat ditulis:

Md = kPY                 

Dimana k adalah proporsi/bagian dari GNP yang diwujudkan dalam bentuk uang kas, jadi besarnya sama dengan I/VV, sedangkan Y adalah tingkat pendapatan nasional riil dan P adalah harga umum.

Secara matematis formulasi Alfred Marshall ini sama dengan formulasi Irving Fisher namun, implikasinya berbeda. Marshall memandang bahwa individu atau masyarakat selalu menginginkan sebagian (proporsi) tertentu dari pendapatannya (Y) diwujudkan dalam bentuk uang kas (yang dinyatakan dengan k). Sehingga kY merupakan keinginan individu atau masyarakat dapat diformulasikan sebagai berikut :

Md = kPO = kY
Md = adalah permintaan uang kas

Dengan formulasi tersebut teori Marshall merupakan awal dari teori permintaan akan uang. Teori ini masih sangat sederhana, terkandung didalamnya beberapa kelemahan. Kelemahannya adalah bahwa dalam kenyataannya V tidaklah tetap. Baik di negara maju maupun negara berkembang, V cenderung tidak konstan.

b)        Teori Permintaan Uang Keynes
Keynes dalam teorinya tentang permintaan akan uang tunai, membedakan antara motif transaksi, berjaga-jaga serta spekulasi. Jadi dia juga mengakui adanya motif transaksi. Hanya saja yang lebih penting dalam arti pengaruhnya terhadap kegiatan ekonomi adalah motif spekulasi (Goldfeld, 1990:307).

1. Permintaan uang untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga
Keynes mengatakan, bahwa permintaan uang kas untuk tujuan transaksi ini tergantung pada pendapatan. Makin tinggi akan uang kas makin tinggi jumlah transaksi yang dilakukan. Seseorang atau masyarakat yang tingkat pendapatannya tinggi, biasanya melakukan transaksi lebih banyak dibanding seseorang atau masyarakat yang pendapatannya lebih rendah.
Menurut Keynes, orang meminta uang untuk transaksi harian. Permintaan ini dipengaruhi oleh besar kecilnya pendapatan. Semakin tinggi pendapatan maka semakin besar permintaan uang untuk tujuan transaksi. Dari sini jelas bahwa Keynes mengikuti jejak kaum Klasik bahwa permintaan uang untuk transaksi tergantung dari pendapatan.
Untuk memenuhi transaksi yang tak terduga, seperti sakit atau kebutuhan yang tak terduga lainnya. Permintaan ini juga dipengaruhi oleh pendapatan, semakin besar pendapatan maka semakin besar permintaan uang untuk berjaga-jaga, atau sebaliknya. Namun Keynes berbeda dengan kaum klasik dalam hal penekanan pada motif spekulasi dan peranan tingkat bunga dalam menentukan permintaan uang untuk spekulasi.
Rumah tangga dan perusahaan bisnis menyimpan uang untuk tujuan transaksi karena mereka berpikir akan atau mungkin, ingin melakukan pengeluaran sebelum mereka memperoleh arus masuk penerimaan uang yang cukup. Biasanya mereka tidak mempunyai jaminan seperti itu. Oleh karena itu, mereka lebih memilih untuk menyimpan sedikit uang untuk menutupi kelebihan pengeluaran mereka atas penerimaan mereka selama satu periode.
Keynes menyatakan bahwa permintaan uang untuk tujuan transaksi merupakan fungsi pendapatan. Keuntungan ini dilukiskan dalam gambar diatas dimana L1, menunjukkan jumlah saldo uang riel yang diminta untuk tujuan transaksi. Terlihat semakin tinggi pendapatan, maka semakin banyak uang yang dipegang untuk keperluan transaksi (Mt). Hubungan antara permintan uang untuk transaksi dengan pendapatan rill (Y/P) tidak selalu linier (garis lurus).
Dengan demikian jelas bahwa Keynes mengikuti jejak kaum klasik bahwa permintaan uang untuk tujuan transaksi tergantung pada pendapatan. (Goldfeld, 1990:308)

2. Permintaan uang untuk tujuan spekulasi
Permintaan uang untuk tujuan spekulasi ini, menurut Keynes ditentukan oleh tingkat bunga. Makin tinggi tingkat bunga makin rendah keinginan masyarakat akan uang kas untuk tujuan atau motif spekulasi.
Alasannya:
a.        Apabila tingkat bunga naik, berarti ongkos memegang uang kas semakin kecil.
b.     Bahwa masyarakat menganggap akan adanya tingkat bunga normal.        

Ketergantungan permintaan uang untuk spekulasi dinyatakan oleh L2, atas suku bunga dalam gambar diatas. Kurva L2L2, condong menurun, mencerminkan hubungan terbalik antara permintaan uang untuk spekulasi dan suku bunga (Goldfeld, 1990:309).
Keynes mengakui bahwa masyarakat bisa memilih untuk menyimpan saldo uang melebihi kebutuhan untuk tujuan transaksi karena keinginannya untuk menyimpan aktiva yang benar-benar bebas dari resiko (depresiasi) dilihat dari segi uang. Saldo yang memenuhi fungsi penyimpan nilai (Store of Value) merupakan permintaan uang untuk spekulasi.
Permintaan uang untuk spekulasi oleh Keynes dianggap ditentukan terutama oleh suku bunga. Bahwa suku bunga yang lebih rendah menyebabkan saldo spekulasi lebih kecil dan suku bunga yang lebih rendah akan menghasilkan permintaan yang lebih besar akan saldo spekulasi.

Implikasi Teori Permintaan Uang Keynes
Uang disamping berfungsi sebagai alat transaski perdagangan (means of exchanges) juga dapat berfungsi sebagai penyimpan nilai(store of value). Pemikiran ekonomi ini yang melahirkan motif uang tidak hanya sekedar untuk kepentingan transaksi dan berjaga-jaga tetapi juga untuk kepentingan spekulasi.
Permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga kedua-duanya dipengaruhi secara proporsional oleh besarnya pendapatan nasional, sehingga bisa dirumuskan sebagai berikut:

Mt  +  Mj  =  f(Y) 

Asumsi bahwa dalam jangka pendek besarnya kekayaan (wealth) nilai konstan, begitupula dengan Pasar uang yang dirumuskan dalam keadaan keseimbangan, maka besarnya permintaan uang (Md) nilainya sama dengan besarnya jumlah uang beredar (Ms), sehingga dapat diformulasikan sebagai berikut:
Menurut Keynes keseimbangan pasar uang yaitu Md = Ms akan menentukan tingkat bunga keseimbangan dan tingkat harga, meskipun penekanannya pada tingkat bunga karena besarnya harga umum ditentukan oleh interaksi antara permintaan agregat (AD) dan penawaran agregat (AS) karena dalam jangka pendek diasumsikan harga tetap.
Keynes lebih menekankan analisis ekonomi jangka pendek dengan mendorong perubahan pada sisi permintaan agregat sehingga dikenal dengan perekonomian sisi permintaan (demand side economy). Pandangan klasik yang menyatakan bahwa perubahan jumlah uang beredar yang tidak mempengaruhi output nasional (Y) tetapi hanya mempengaruhi tingkat harga umum (P) ini yang dikebal dengan istilah“classical dichotomy” yaitu pemisahan antara sector moneter dengan sector riil di mana masing-masing sector berdiri sendiri tidak saling mempengaruhi.
          Namun Keynes kemudian menjelaskan kaitan antara sector moneter dengan sector riil melalui analisis IS-LM yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Hicks. Keynes menyatakan bahwa perubahan jumlah uang beredar (Ms) akan mempengaruhi keseimbangan pasar uang (Ms = Md) dan menentukan tingkat bunga yang akan mempengaruhi tingkat investasi (I) dan melalui mekanisme angka pengganda (multiplier) akan mempengaruhi tingkat output nasional (Y). Jadi pandangan Keynes merupakan terobosan dalam menjelaskan kaitan antara sector moneter dengan sektor riil yang menurut pandangan klasik dianggap sesuatu yang terpisah.

Karakteristik Teori Ekonomi Keynes
Mazhab ekonomi Keynes memiliki beberapa karakteristik yang dapat dibedakan dengan pemikiran ekonomi klasik pada pasar barang yaitu :
a)        Perekonomian tidak selalu dalam keadaan full employment artinya bahwa keseimbangan pasar (equilibrium) tercapai pada keadaan dimana pasar mengalami kelebihan atau kekurangan produksi.
b)        Perlu adanya campur tangan pemerintah untuk mengatasi masalah kegagalan pasar (market failure) karena timbulnya distorsi di pasar.
c)        Analisis ekonomi lebih menekankan analisis jangka pendek karena persoalan ekonomi lebih banyak menyangkut persoalan jangka pendek yang harus diatasi. Keynes menyatakan bahwa dalam jangka panjang kita semua akan meninggal (in the long run we are all dead).
d)        Lebih menekankan analisis ekonomi dari sisi permintaan (demand side economy).

Sedangkan pada pasar uang mazhab Keynes memiliki pandangan yang khas yaitu:
1.        Terdapat tiga motif masyarakat memegang uang yaitu untuk transaksi, berjaga-jaga dan spekulasi.
2.        Jumlah uang yang beredar ditentukan oleh pemerintah atau otoritas moneter.
3.        Keseimbangan di pasar uang ditentukan oleh besarnya pendapatan nasional dan tingkat bunga

     Karakteristik pandangan mazhab pada pasar tenaga kerja adalah sebagai berikut:
a.         Tingkat upah bersifat kaku (rigid) karena analisisnya lebih menekankan analisis jangka pendek
b.         Untuk mengatasi pengangguran perlu campur tangan pemerintah.


c)        Teori Cambridge
Teori ini dikemukakan oleh A. Marshall dari Universitas Cambridge, dia memandang persamaan Fisher dengan sudut pandang yang berbeda. Marshall tidak menekankan pada perputaran uang (velocity) dalam suatu periode, melainkan pada bagian dari pendapatan (GNP) yang diwujudkan dalam bentuk uang kas (Nopirin, 1998: 73). Secara matematis, teori ini dapat dituliskan sebagai berikut:
M = k Py       
Dimana k adalah proporsi dari GNP yang diujudkan dalam bentuk uang kas, jadi besarnya sama dengan 1/v. Marshall tidak menggunakan volume transaksi (T) sebagai alat pengukur jumlah output, tetapi menggunakan Y (untuk menunjukkan GNP riil). Jadi, T umumnya lebih besar daripada Y, sebab dalam pengertian T termasuk juga total transaksi barang akhir dan atau setengah jadi dihasilkan beberapa tahun yang lampau. Sedang dalam GNP hanyalah mencakup barang dan jasa akhir yang dihasilkan pada tahun tertentu saja, di dalamnya juga tidak termasuk barang setengah jadi. Esensi dari persamaan Irving Fisher tidaklah berbeda dengan persamaan Marshall ditinjau dari segi matematis, sehingga masih juga merupakan suatu identitas. Namun demikian, orientasinya berbeda. Persamaan Marshall dapat dikatakan merupakan persamaan yang menunjukkan adanya permintaan akan uang, dimana masyarakat menghendaki sebagian tertentu dari pendapatannya dalam bentuk uang kas (ditunjukkan dengan k).

Dengan demikian, persamaan Marshall tidak lagi merupakan persamaan pertukaran atau identitas (seperti pada persamaan Irving Fisher), tetapi telah merupakan persamaan teori kuantitas uang (dalam arti telah terkandung di dalamnya pengertian permintaan akan uang, yang kemudian sering disebut dengan persamaancash-balance). untuk menyimpan kekayaannya dalam bentuk yang paling lancar (uang kas). Uang kas yang disimpan ini memenuhi fungsi uang sebagai alat penimbun kakayaan (store if value). Istilah yang lebih modern disebut dengan permintaan uang untuk penimbun kekayaan.

d)        Teori Kuantitas Modern
Teori ini dipopulerkan dan dikembangkan oleh Milton Friedman, dengan mengatakan bahwa permintaan uang itu sejalan dan identik dengan permintaan untuk komoditi tahan lama.
Secara ringkas model persamaan yang diberikan ada kemiripan dengan modelpersamaan kuantitas dari salah satu teori klasik, yakni :
M= k.Y = (1/v) . Y               
Dimana :
      Jumlah Uang yang Beredar
        Besar kecilnya keinginan masyarakat untuk memegang bagian dari pendapatan/kekayaannya dalam bentuk kas
Y         Pendapatan nasional
V         Velocity  

Perbedaannya adalah :
1.        Pada persamaan klasik yang dimaksud Y adalah current income, sementaramenurut Friedman Y adalah Permanent Income, yakni pendapatan rata-rata yangdiharapkan masyarakat selama periode tertentu
2.        Menurut teori klasik, yang dimaksud M adalah M1, sementara menurut Friedmanadalah M2, dimana M2 = M1 + Time Deposit
3.        Dalam teori klasik, nilai v adalah konstan, namun dalam persamaan Friedman nilai v berfluktuasi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :
•Inflasi
•Tingkat harga umum
•Penghasilan dari saham
•Penghasilan dari obligasi

Kesimpulan dari
Teori Kuentitas Friedman adalah :
i.           JUB masih merupakan variabel kunci dalam penentuan kebijakan untukmengendalikan tingkat harga dan pendapatan
ii.         Inflasi dan deflasi dapat diatasi apabila perubahan JUB per unit output dapat dijagakenaikan atau penurunnya
iii.       Velocity JUB relatif masih stabil
iv.       Efektifitas kebijakan fiskal, dalam hal ini defisit APBN, masih dapat diatasi biladibiayai dengan pinjaman masyarakat.

e)        Teori Setelah Keynes
Perkembangan selanjutnya dari teori keynes didasarkan pada motif transaksi (W.J Boumol 1952) dan motif spekulasi (James Tobin)
1.        Pendekatan Inventori/penyediaaan Boumol :
Permintaan uang seperti permintaan terhadap persediaan (Stock) yang setiap saat dipakai untuk memenuhi berbagai keperluan yang muncul setiap saat, tetapi untuk mengelola diperlukan biaya, maka diperlukan jumlah persediaan yang optimum (Biaya minimum)
2.        Permintaan uang untuk transaksi, akan diperoleh manfaat tetapi juga ada biata untuk memegang uang terdiri dari :
a.        Biaya transaksi untuk menukar antara obligasi dengan uang
b.        Opportunity cost memegang uang berupa tingkat bunga dari obligasi (r)
3.        Penentuan uang kas (persediaan) yang optimum, yang menghasilkan biaya minimum dijelaskan:
Biaya total untuk memegang uang kas (TC) terdiri dari biaya perantasa (b. T/C) dan biaya bunga (r. C/2) dengan rumus :  TC - b. (T/C) + r. (C/2)
4.        Jumlah Uang Kas yang Optimal (C) :
(dTC/dC) = -b. T/C^2 + r/2 = 0 maka : C = (2b T/r)^1/2
5.        Uang kas yang ditahan setiap saat sebesar C/2, maka :
Persamaan permintaan uang kas riil Md/P = C/2 = 1/2 ( 2 bT/r) ^2 atau Md = 1/2 (2bT/r) ^1/2. P Implikasi dari teori Boumol :
6.        Tingkat bunga mempengaruhi permintaa uang untuk transaksi karena adanya opportunity cost dalam memegann uang.
7.        Adanya economies of scale dalam penggunaan uang, artinya jika ada peningkatan pendapatan ( nilai transaksi, T) maka persentase kenaikan uang kas yang diinginkan (Md) lebih kecil daripada kenaikan nilai transaksinya.
8.        Permintaan uang kas untuk tujuan transaksi tergantung pada tingkat bunga serta biaya perantara ( teori keynes : permintaan uang untuk tujuan transaksi hanya tergantung dari pendapatan).
9.        Perkembangan / kemajuan teknologi yang menyebabkan turunya ongkos/ biaya transaksi akan mengakibatkan turunya rata-rata kas yang dipegang oleh individu
10.    Motif berjaga-jaga dalam permintaan uang. muncul karena adanya ketidakpastian dalam arus uang masuk dan keluar.  


Komentar

  1. Betway Casino Near Me | Mapyro
    Search by area and get detailed customer reviews and reviews of Betway Casino in 춘천 출장마사지 Atlantic City. Get 서산 출장샵 real-time customer ratings and reviews. Rating: 3.6 · 세종특별자치 출장안마 ‎8 titanium wire votes 강릉 출장샵

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOAL DAN JAWABAN PENGANGGARAN PERUSAHAAN TENTANG : ANGGARAN PRODUKSI DENGAN POLA SATABILITAS PRODUKSI, ANGGARAN KEBUTUHAN, ANGGARAN BIAYA PEMBELIAN, ANGGARAN BAHAN BAKU, ANGGARAN KAS KELUAR, ANGGARAN UTANG USAHA, DAN ANGGARAN BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG

TEORI EKONOMI MIKRO : PASAR OLIGOPOLI